Cerita Umroh (Day 5): Mekkah, Akhirnya Bersua Kabah

by - Saturday, March 30, 2019

Minggu, 3 Februari 2019

Sekitar jam 8 malam saya dan rombongan tiba di Mekkah. Selama di Mekkah kami tinggal di hotel Pullman Zam-Zam. Lokasinya berada di dalam Tower Zam-Zam atau Tower Jam, area Abraj Avenue. Tower Zam-zam sendiri berada tepat di depan pintu Masjidil Haram nomor 90.




Mekkah vs Madinah

Dari beberapa tulisan yang saya baca, sebagian besar orang merasa bahwa suasana Kota Madinah jauh lebih baik dan nyaman dibanding Kota Mekkah. Apakah bagi saya juga begitu? Let me tell you...

Kalau dari pandangan sekilas, perbedaan suasana di Kota Mekkah memang cukup signifikan dengan Madinah. Kontur tanah di Mekkah berbukit-bukit, banyak terowongan dan jalan layang. Cuacanya pun cenderung terasa agak lebih panas dan tidak begitu banyak angin di sore atau malam hari. Positifnya kita nggak perlu pakai jaket kalau sore-sore mau ke masjid. Kalau pun pengen pakai jaket, cukup yang tipis saja, barangkali dapat shaft solat di dalam masjid yang kipas anginnya kenceng-kenceng. Kibasan kipas angin di dalam masjid lumayan bikin merinding, lho ngomong-ngomongπŸ˜€. 

Dari sisi orang, seperti saya pernah singgung di postingan sebelumnya, orang-orang di Al Haram terlihat lebih grasak grusuk. Mungkinkah ada kaitannya dengan buka tutup pintu masjid yang lebih ketat saat jam solat tiba? Karena kalau nggak buru-buru ya nggak bakal bisa masuk ke dalam masjid, pintu sudah keburu ditutup. 

Namun dari sisi lokasi rasanya mirip yaah. Sama-sama dikelilingi pusat perbelanjaan dan perhotelan. Bedanya kalau di Mekkah kesan mewahnya terasa lebih kental. Mall-mall-nya lebih besar. Saya nggak menyangka lokasi masjid berada di dalam pusat keramaian yang sangat memanjakan mata tapi bisa menguras dompet dan kekhusyukan para jamaah, πŸ€“. Saya sendiri senang, karena bikin hati tenang. Setidaknya jika ada kebutuhan dadakan untuk Ahza saya nggak pusing cari-cari. Walaupun sebenernya deep down inside saya bertanya-tanya kok bisa yaaa masjid yang menjadi tempat tersuci umat Islam ini sekarang di kelilingi pusat belanja yang kesannya kapitalis (?). 

Tentang Al Haram

Sejujurnya ketika menulis masjidil Haram menjadi Al Haram, di kuping saya langsung terngiang bunyi lift hotel yang menuju lantai 0. Ding dong ‘.... Al Haram...’, kemudian terbukalah pintu lift dan semua orang di dalamnya berduyun-duyun menuju masjid. Aaah rindunyaa.... Rasa rindunya mirip dengan rindu suara announcement kereta api di Jepang. Terdengar lebay? Hahaha biaaaarr!

Bangunan Al Haram dari luar berwarna abu-abu marmer. Bentuknya mirim benteng. Al Haram punya tower tinggi yang kalau malam menyala hijau. Kabahnya dimana? Ada di bagian tengah dari Al Haram, di area outdoor.  

Al Haram jauh lebih luas dibanding Masjid Nabawi. Apalagi Al Haram punya beberapa lantai, ada lima kalau nggak salah dan sampai saat ini masih terus direnovasi untuk pengembangan area. Untuk mencapai tiap lantai, Al Haram dilengkapi eskalator dan tangga. Jadi cukup difable friendly meski tetap harus ada pendamping untuk mereka. 


Foto yang seharusnya di upload di postingan Madinah: Pertama kali touch down Arab Saudi. 
Muka kucel lagi numpang subuhan di sebuah masjid pinggir jalan.


Baca: Hari-hari di Madinah, Kota Damai Nan Bercahaya

Yang unik, begitu masuk masjid, untuk mencari posisi solat, jamaah mesti muter-muter dulu, macam main labirin ala Maze Runner. Kenapa bisa gitu? Karena pintu masuk Al Haram tidak dibedakan untuk jamaah wanita dan laki-laki. Pembagian shafnya baru diatur di dalam masjid sedemikian rupa biar nggak campur. Biasanya ini yang malah berpotensi bikin orang nyasar, apalagi untuk yang baru pertama kali umroh. Makanya, salah satu tips masuk masjid Al Haram adalah kita harus menghafal nomor pintu masjid tempat kita keluar masuk. Insya Allah nggak akan nyasar-nyasar lagi walaupun shaf solatnya berganti-ganti.

Dikau lupa nggak memfoto atau merekam gerakan buka tutup si payung cantik di Masjid Nabawi? Waduuuu sayang kalii karena dikau nggak akan menemuinya di Al Haram yang tidak punya payung hidraulik seperti yang ada di Masjid Nabawi. Jadi pelataran dan area Kabah benar-benar plong langsung di bawah langit dan matahari, nggak ada pelindung kepala dari panas dan hujan. Kira-kira bisa ya membayangkan jika telat masuk masjid pas jam solat dhuhur panasnya kayak apa? Atau pas lagi umroh saat matahari sedang terik-teriknya rasanya kayak apa?



Kelakuan Ahza kalau pas ikut masjid. Mainan semua-mua yang ada di dalam tas. 
Apaqa semua anak bayi selalu mengalami fase pakai topi model pampers? | Untuk menjaga mood Ahza, mama selalu sedia biskuit, salah satunya Pocky, the favorite one!


Tempat wudhu ada di dalam maupun di luar masjid. Tapi untuk toilet setahu saya hanya ada di luar. Itu pun lokasinya jauh. Saya sempet muter-muter hampir nyasar gara-gara nyari toilet. Makanya kalau pas lagi jam solat atau umroh, minum air zam-zam nya jangan kalap. Karena PR banget kalau kebelet kencing.  

Kenapa ya nggak dibuatkan toilet di dalam masjid, di bagian pinggir-pinggir dekat tembok terluar gitu....? Apakah ada kaitannya dengan najis? 

Kondisi toilet masjid gimana? Kondisinya cukup bersih walau bukan yang kinclong seperti toilet di mall-mall Jakarta. Lantainya masih tegel bukan keramik apalagi granit. Sayangnya toilet di sana belum baby friendly alias belum tersedia tempat ganti popok bayi. Atau saya yang nggak nemu? Jadi sebelum masuk masjid pastikan popok bocah sudah ganti dengan yang baru. Ditambah doa biar si bocah pup nya pas di hotel aja, biar mamak gak ribet πŸ˜‚

Oiyaa, enaknya masuk Al Haram itu laki perempuan bisa barengan. Kalau di masjid Nabawi kan pisahan tuh. Jadi kalau umroh hanya bareng suami tetap ada temennya masuk masjid. Bisa reramaian juga dengan satu tim rombongan. Begitu masuk baru deh dibagi shafnya oleh para askar yang bertugas.

Askar itu siapa? Askar adalah petugas ketertiban (polisi) di dalam masjid Nabawi dan Mekkah. Ada askar wanita dan askar laki-laki. Ada yang beda antara askara Nabawi dengan Mekkah, terutama ketika bertugas memeriksa tas dan bawaan jamaah. Askar masjid Al Haram tidak se-ketat askar Masjid Nabawi. Tapi kalau bawelnya sih tetep sama aja, apalagi askar wanita. Karena apa? Ya gara2 jamaah wanita biasanya lebih ngeyel main sruduk2 padahal shaf solat sudah penuh. Terutama jamaah dari Pakistan, Turki, India, Semenanjung Arab. Sudah tahu disitu ada orang duduk tetep aja nyelipin badan, kadang tanpa permisi. Mending body nya langsing cem eike, hlaa bongsor2 gitu. Makanya nggak jarang jadi omel-omelan diantara mereka. Hahaa... banyaklah cerita-cerita lucu seputar jamaah umroh vs Askar kalau di googling. 

Eh psst... gaya omel2an di sana tuh rasanya beda deh sama omel2an di KRL. Hawanya beda, di KrL lebih emosional dan bisa jambak-jambakan. Kalau di mesjid Al Haram dan Nabawi orang mana sempet sampai jambak-jambakan. Paling ngumpat doang dan yg saya lihat cara tegur2an mereka tuh beneran face to face, macan lagi diskusi. Nadanya ada yg tinggi tapi lebih banyak yg biasa. Namanya juga di mesjid kali, ya masa mau berantem. Yg suaranya keras cuma para askar aja biar jamaah2 yg ngeyel pada nurut. 

“..... ibu ibu terus terus....”
“..... hajjah hajjah, jalan jalan.....”

*ucapan khas para askar wanita*


Malam Pertama di Mekkah: Umroh Perdana

Agenda utama begitu sampai di Mekkah adalah ibadah umroh yang terdiri dari 3 rukun: tawaf, sai, dan tahalul. Padahal sampai sana sudah malam. Makanya sejak keluar dari Madinah memang harus mempersiapkan diri agar fisiknya tetap kuat dengan makan dan tidur yang cukup selama perjalanan. 

Umroh pertama ini mengambil miqat/niat di Bir Ali, masih di dekat Madinah. Jadi selama perjalanan dari Madinah ke Mekkah yang memakan waktu kurang lebih 5 jam itu, kondisi kita harus sudah siap untuk umroh. Salah satunya yaitu: untuk bapak-bapak harus sudah memakai pakaian ihrom, yang ibu-ibu sudah pakai pakaian umroh yang full menutup aurat dan tidak ketat (untuk warna tidak ada kewajiban harus putih-putih; saya sendiri pakai warna hitam).


Area Sa'i yang adem dan lega (indoor)| Area Tawaf di area Ka'bah (outdoor)


Begitu sampai Mekkah, rombongan dipersilakan untuk solat magrib isya yang dijamak dan makan malam. Kalau saya plus gantiin popok Ahza biar pas umroh lebih nyaman, juga pasang-pasang gendongan baik di saya juga di Papanya Ahza. Sengaja pasang 2 gendongan niatnya biar lebih gampang saat Ahza pindah-pindah gendongan. Stroler dibawa nggak? Menurut informasi yang ada, stroler tidak bisa masuk masjid, jadi saya nggak bawa. Saya juga siap dengan bekal cemilan dan botol minum Ahza yang nanti bisa diisi dengan air zam-zam.

Kira-kira jam 9 malam rombongan siap untuk ibadah umroh. Sebenernya mata sudah mulai sepet. Bagaimana pun yang namanya tidur di perjalanan rasanya tetap belum memenuhi kualitas istirahat yang ideal, apalagi pakai moda bus, sambil mangku bocah pula, sedaaap! Tapi masa iyaa saya langsung menyerah begitu saja hanya gara-gara capek dan ngantuk. Ahza toh lagi anteng, udah masuk jam tidur pula. Terus rukun umroh kan cuma 3, cincailah yaa.... Selain itu, saya nggak mau menyesal kalau sampai melewatkan umroh perdana, seperti saya menyesal "gagal" masuk Rawdah.

Singkat cerita, saya bisa menyelesaikan umroh dengan ucapan hamdalah... kelar juga. Hehehe. Karena eh karena begitu kelar rasanya tuh... alamaaaakk.... Capek? Ternyata nggak sekedar capek. Tapi lebih ke pinggang encok pegal linu, macam mau patah, hahahaha.... Apakah mungkin karena sambil gendong bocah? Salah satunya iya. Ditambah lagi kondisi Al Haram cukup crowded, penuh banget orang. Makanya pas tawaf jadi melipir pelan-pelan yang menurut saya malah tambah bikin capek. Dan ternyataaa... Sa'i itu jauh jauh lebih membuat capek dibanding tawaf. Padahal tempatnya lebih nyaman karena indoor dan ber-AC. Sungguh dugaan yang salah -- iyaa, saya tuh sebelumnya kayak sedikit 'jumawa' sama kegiatan Sa'i ini. Saya pikir bisa laaah jalan/jogging di area adem gitu. Masa sampai nggak kuat. Eeeeh tak tahunya saya salah, men! Walaupun sanggup menyelesaikan umroh tapi capeknya alamakjaang, berasa bertubi-tubi banget *lebay, eheehe....

Kelar umroh perdana di malam hari. Muka kunyu, lemes, tapi lega luar biasaaaa....! 
Alhamdulillah!


Tapi kalau mau ngeles, munculnya 'kejumawaan' ini karena saya berusaha positif thinking untuk mengafirmasi diri bahwa umroh itu menyenangkan dan nggak sesusah yang dibayangkan. Di tulisan sebelumnya saya pernah bilang kan kalau sampai detik tiket udah dibayar, antusiasme saya untuk umroh tuh nggak nongol-nongol. Rasanya insekyur gitu loh, karena takut ribet, takut nggak kuat, takut kejadian ini, kejadian itu, banyak laah. Belum lagi kok yaa berasa bonus tahunan langsung terkuras untuk bayar tiketnya, dan pikiran-pikiran 'setan' lainnya.

Selama umroh perdana Ahza gimana? Alhamdulillah pas banget sama jamnya tidur. Jadi sepanjang acara doi pules dalam gendongan. Bangun-bangun pas banget kelar tahalul - rukun terakhir ibadah umroh. Biasaa.. jatah nenen. Untung ya bok, sebelumnya saya 'training' nen sambil gendong, jadi langsung bisa deh pas beneran 'praktek' 😁 Tapi.... ada satu catatan nih, kalau umroh bawa bayi saya lebih menyarankan pakai gendongan bentuk SSC bukan hipseat. Karena jauh-jauh lebih nyaman saat harus gendong sambil nen. Beda dengan hipseat yang ketika posisi menyusui mesti agak diturunkan dari pinggang biar pas dengan posisi payudara. Akibatnya pinggang jadi lebi cekot-cekot karena menahan beban hipseat dan bocah sekaligus.

Gitu deh kira-kira gambaran cerita hari pertama di Mekkah.

Jangan lupa komen-komenya yaa... maacih :*



\



You May Also Like

0 Comments

Thankyou very much for dropping by. Tapi maaf saya moderasi ya, untuk menghindari spam dan komen dg link hidup. Bila waktunya luang pasti akan saya balas dan kunjungi balik blog kalian :)